RTM Universitas Terbuka 2026 Hasilkan Rekomendasi Revolusioner
20 April, 2026
oleh
Abdul Rochim, S.Kom.
SURABAYA — Di tengah perubahan dunia
pendidikan tinggi yang kian cepat, Universitas Terbuka tidak memilih untuk
sekadar mengikuti arus. Kampus ini justru mengambil jeda yang penuh makna,
berhenti sejenak untuk melihat ke dalam, mengevaluasi diri, dan memastikan
bahwa setiap langkah ke depan tetap berpijak pada arah yang tepat. Melalui
Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Tahun 2026, Universitas Terbuka menunjukkan
bahwa kualitas bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari
keberanian untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan melangkah lebih jauh dengan
kesadaran penuh.
Kegiatan yang berlangsung pada 13 hingga 16 April
2026 di DoubleTree by Hilton Surabaya ini menjadi ruang pertemuan strategis
yang mempertemukan seluruh jajaran pimpinan Universitas Terbuka dari tingkat
pusat hingga daerah. Sebanyak 259 peserta dan panitia hadir, membawa tanggung
jawab yang tidak ringan, memastikan bahwa setiap kebijakan dan standar
pendidikan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi benar-benar
hidup dalam praktik yang konsisten diimplementasikan dan berdampak nyata.
Kehadiran ini mencerminkan komitmen kolektif bahwa mutu dan tata kelola bukan sekadar
kewajiban institusional, melainkan janji kepada masyarakat.

Sebagai bagian integral dari Sistem
Penjaminan Mutu Internal, RTM memiliki posisi yang sangat krusial dalam siklus
pengelolaan institusi. Forum ini bukan hanya sekadar agenda tahunan, tetapi
menjadi ruang refleksi strategis yang mempertemukan data, pengalaman, dan visi
dalam satu meja yang sama. Tema yang diusung tahun ini, “Penguatan Kewibawaan
dan Reputasi Akademik Universitas Terbuka yang Berintegritas dan Revolusioner”.
Tema ini dipilih sebagai refleksi atas tantangan pengelolaan pendidikan tinggi
yang semakin dinamis dan kompleks. Kewibawaan dan reputasi akademik tidak hanya
dibangun melalui capaian kinerja dan pengakuan eksternal, tetapi terutama
melalui integritas tata kelola, kepatuhan terhadap standar mutu, serta
konsistensi antara kebijakan, pelaksanaan, dan bukti kinerja institusi. Pemilihan
tema juga menjadi penegasan bahwa masa depan tidak bisa dibangun dengan
cara-cara biasa. Diperlukan keberanian untuk berpikir radikal, mendobrak
batasan lama, serta menjaga integritas pada titik tertinggi sebagai fondasi
utama reputasi akademik.
Sekretaris Universitas, Dr. Kurnia
Endah Riana, dalam laporannya menggambarkan RTM sebagai ruang yang sangat
strategis dalam memastikan efektivitas mutu dan tata kelola universitas. Ia
menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar pemenuhan siklus penjaminan mutu
internal, melainkan kesempatan untuk melakukan refleksi yang jujur dan evaluasi
yang tajam. Menurutnya, reputasi akademik tidak dibangun dalam semalam, tetapi
melalui konsistensi antara kebijakan yang dirancang dengan implementasi nyata
di lapangan. Oleh karena itu, RTM diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi-rekomendasi
revolusioner yang tidak hanya konstruktif, tetapi juga implementatif dan
benar-benar berdampak bagi kemajuan Universitas Terbuka.
Pembahasan dalam RTM berlangsung secara
komprehensif dan mendalam, menyentuh berbagai aspek penting dalam pengelolaan
institusi. Para pimpinan melakukan evaluasi terhadap capaian sasaran mutu
akademik dan nonakademik, menelaah hasil Asesmen Mutu Internal dan capaian
sasaran kualitas akademik dan menejerial, serta membahas manajemen risiko yang
menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi. Umpan balik dari
pemangku kepentingan juga menjadi perhatian utama, sebagai upaya memastikan
bahwa kebijakan yang diambil tetap relevan dengan kebutuhan pengguna layanan.
Untuk memperdalam pembahasan, RTM juga
menghadirkan diskusi kelompok terpumpun (FGD) yang membedah empat aspek utama
secara lebih fokus, yaitu tata kelola, kualitas akademik, layanan pembelajaran
jarak jauh, serta daya jangkau. Melalui diskusi ini, para pimpinan berupaya
mengidentifikasi kesenjangan antara kebijakan dan implementasi, mengevaluasi
efektivitas proses operasional, serta merumuskan solusi berbasis data. Hasil
dari seluruh rangkaian diskusi tersebut kemudian dirumuskan menjadi rekomendasi
strategis yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan di tingkat pimpinan
universitas.
Menariknya, RTM 2026 tidak hanya
berfokus pada evaluasi internal, tetapi juga membuka ruang untuk perspektif
eksternal yang memperkaya diskusi. Kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi
melalui Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat, Dr. Ir. Wawan
Wardiana, MT., menjadi penegasan kuat bahwa integritas bukan sekadar jargon,
tetapi harus dihidupkan dalam setiap aspek tata kelola. Materi mengenai
pendidikan antikorupsi yang disampaikan dalam forum ini memperkuat komitmen
Universitas Terbuka untuk membangun sistem pendidikan tinggi yang bersih,
transparan, akuntabel, dan berintegritas.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga
datang dari berbagai mitra strategis yang menunjukkan kuatnya kolaborasi antara
dunia pendidikan dan industri. Sejumlah institusi seperti Bank Rakyat
Indonesia, Pos Indonesia, JNE, Bank BTN, Bank Mandiri, Bank Syariah Indonesia,
dan Bank Negara Indonesia turut berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan RTM.
Kolaborasi ini mencerminkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tinggi tidak
dapat dilakukan secara sendiri, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor
yang saling menguatkan.
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Ali
Muktiyanto, dalam sambutannya mengajak seluruh pimpinan untuk meneguhkan
kembali jati diri Universitas Terbuka sebagai pelopor pendidikan terbuka dan
jarak jauh. Ia mengingatkan bahwa lebih dari empat dekade perjalanan sejak
berdiri pada 1984 telah membentuk fondasi yang kuat bagi institusi ini.
Memasuki fase baru, Universitas Terbuka dituntut untuk tidak hanya bertahan,
tetapi juga berani melompat lebih jauh menuju visi 2045 sebagai perguruan
tinggi jarak jauh berkualitas dunia.
Ia juga menekankan bahwa Universitas
Terbuka memiliki kekuatan besar yang tidak dimiliki banyak perguruan tinggi
lain, yaitu jaringan yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Dengan
potensi tersebut, ia mendorong seluruh pimpinan untuk berpikir besar, bertindak
besar, dan menghasilkan dampak besar. RTM, dalam hal ini, bukan lagi sekadar
rutinitas, tetapi menjadi momentum untuk membuktikan bahwa setiap proses yang
dijalankan benar-benar mengarah pada peningkatan kualitas yang nyata.
Lebih jauh, Rektor menegaskan bahwa
Universitas Terbuka adalah simbol hadirnya negara dalam menyediakan akses
pendidikan tinggi bagi seluruh masyarakat. Oleh karena itu, perluasan daya
jangkau pendidikan harus terus dikawal hingga menjangkau wilayah terluar,
tertinggal, dan terdepan. Dengan dukungan teknologi dan penguatan digital learning
ecosystem, Universitas Terbuka didorong untuk bekerja lebih efektif sekaligus
menjaga kualitas layanan tetap merata di seluruh wilayah.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah
ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pendidikan
berkualitas atau SDG 4 yang menekankan pentingnya akses pendidikan yang
berkualitas, inklusif dan merata. Di sisi lain, penguatan tata kelola yang
transparan dan akuntabel juga mencerminkan nilai dalam SDG 16. Dengan demikian,
RTM tidak hanya menjadi instrumen evaluasi internal, tetapi juga bagian dari
kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul.
RTM 2026 tampil lebih dari sekadar forum
manajerial. Ia menjelma menjadi ruang kesadaran kolektif bahwa kualitas adalah
perjalanan panjang yang tidak pernah selesai. Dari Surabaya, lahir kembali
tekad untuk terus berbenah, menjaga integritas, dan menghadirkan inovasi yang
relevan dengan kebutuhan zaman. Di balik setiap diskusi dan keputusan,
tersimpan harapan besar bahwa Universitas Terbuka tidak hanya menjadi institusi
pendidikan, tetapi juga menjadi jembatan masa depan bagi jutaan masyarakat
Indonesia yang ingin mengubah hidup melalui pendidikan.
Tagar:
#UniversitasTerbuka
#RTM2026 #PendidikanInklusif #MutuPendidikan #SDG4 #SDG16.
Our blogs
and then Add to Home Screen.
To install this Web App in your ISO device press